Energi Zulhijah Diperingatan Lahirnya Pancasila

img

Oleh : MUNIR ANSHORY (ALUMNI LEMHANNAS RI TAHUN 2020)

MENGIKUTI informasi penyelenggaraan Ibadah Haji tahun ini ada yang berbeda. Karena Kementerian Haji dan Umrah yang merupakan organ baru dan kita menantikan  kisah sukses pelaksanaannya. Ekspektasinya begitu besar. Sorot mata tertuju pada seluruh informasi yang tersiar di televisi apalagi media sosial. Sedikit saja persoalan penyelenggaraan di Tanah Suci, akan begitu cepat menyita perhatian dan mengundang reaksi publik.

Namun jangan hanya terpana pada informasi viralnya penyelenggaraan ibadah Haji. Kerena sebagai umat Islam di Indonesia ada hal lain yang harus menjadi perhatian dan bahan renungan untuk memperbaharui semangat kehidupan berbangsa kita yaitu tanggal 15 Zulhijjah. Ada apa dengan 15 Zulhijah? Bukankah hari Tasyrik hanya 3 (tiga) hari selepas Idul Adha?

Benar. Selain ibadah puasa di 9 Zulhijah, Hari Raya Idul Adha serta penyelenggaraan kurban, pada tahun ini kita juga memperingati hari lahirnya Pancasila pada tanggal 1 Juni yang bertepatan dengan 15 Zulhijah.

Mungkin kita sudah berulang kali mendengarkan khatib yang menyampaikan hikmah Hari Raya Idul Adha. Tapi sudahkah kandungan peristiwa yang melekat di ingatan itu terekstraksi sebagai tindakan? Energi Zulhijah seakan terhenti pada heroiknya materi khutbah, pada semangat irisan demi irisan daging kurban, atau pada militansi disaat pendistribusiannya. 

Kandungan energi yang diantaranya terdiri dari nilai ketauhidan, pengorbanan, persatuan, keadilan, dan kepedulian sosial itu terasa asing karena rambatan cahaya pragmatisme dan individualisme kian memangkas jarak pandang ideal kita. Padahal relevansinya sudah terang benderang dan memang sejalan antara energi tersebut dengan pedoman berbangsa kita yaitu Pancasila yang diperingati kelahirannya pada 1 Juni.

WABAH PRAGMATISME DAN INDIVIDUALISME

Begitu banyak ulasan mengenai pragmatisme yang kini semakin menjadi trend dan berdampak pada terkikisnya kepentingan yang lebih besar karena begitu kuatnya hasrat pribadi. Bangunan nilai dan rancangan ideal dalam visi gerakan menjadi rapuh karna dianggap sebagai faktor penghalang langkah strategis praktis jangka pendek yang menghalalkan segala cara. Komitmen idealisme semakin lemah dan perspektif pun semakin sempit diantara untung dan rugi semata.

Kita seakan tak berdaya ketika menyaksikan para elite yang mendirikan koalisi hanya berdasarkan pada pembagian kekuasaan dan abai pada idealisme serta aspirasi yang mestinya dikedepankan. Dampaknya kemudian pada prinsip check and balances  yang sukar dijalankan dan masyarakat pun memanfaatkan kanal lain untuk menyuarakan.

Maka sesuatu yang dikhawatirkan oleh J.J. Rousseau bahwa "keinginan para wakil rakyat (Will of the few) bukanlah keinginan rakyat" menjadi koheren dengan rasa frustasi yang tumpah ke jalan dan turut memenuhi jagat maya. 

Akhirnya rakyat yang berdaulat itu harus bersusah payah mengingatkan para wakilnya (legislator) dengan berpanas-panas dijalan, berteriak dan menyisihkan waktu kerjanya semata-mata untuk menyeru kepada kebajikan, mengajak beramar makruf dan nahyi munkar (Q.S. 3 : 104).

Pada bagian lain, disaat kita memasuki musim efisiensi yang bertujuan untuk memperbaiki tata kelola keuangan negara untuk meningkatkan kesehatan fiskal dan prioritas anggaran pada program unggulan, justru menyaksikan tontonan berupa polemik gaya hidup mewah oknum pejabat. Hal tesebut juga satu nafas dengan fenomena pamer kekayaan (flexing). 

Dilansir dari ugm.ac.id Sosiolog UGM, Dr. Andreas Budi Widyanta, S.Sos., M.A., menyatakan bahwa "di era saat ini gaya hidup yang memosisikan aspek-aspek materialisme sebagai penanda seseorang memiliki gaya hidup lebih dari yang lain kian terlihat jelas. Dengan begitu penumpukan basis  material menjadi bagian dari eksistensi seseorang untuk menunjukkan kepada dunia akan kelas sosial elite berbeda dengan kebanyakan orang. Tidak sedikit yang akhirnya masuk ke dalam perangkap besar liberalisasi ekonomi, konsumerisme, dan gaya hidup elite". 

Individualisme itu akhirnya berujung pada punahnya solidaritas. Dan kepekaan yang tergerus itu memaksa kita untuk menarik konklusi bahwa perlombaan gaya hidup juncto flexing  sangat menghianati prinsip kemanusiaan yang adil dan beradab ditengah keprihatinan rakyat.

REINFORCEMENT ENERGI ZULHIJAH

Energi Zulhijah mengisyaratkan kita untuk melakukan kontemplasi dan meremajakan sikap intuitif, lebih merasakan lagi antara keseimbangan dan kesadaran, mengamati dan merenungi secara mendalam antara realitas yang ada dengan hikmah peritiwa pengorbanan keluarga Ibrahim A.S. Perenungan itu akan mengaktifkan stimulus berupa motivasi yang menggugah dengan interaksi yang menggerakkan, dan secara kolektif terbangun kerangka kesadaran pada nilai mulia yang akan dihidupkan.

Keteladanan Ibrahim A.S. pada spirit ketakwaan dan pengorbanan menjadi dasar aktualisasi di alam nyata. Ketaatan, keikhlasan dan kepedulian sosial yang sejalan dengan nilai kemanusiaan serta gotong royong menjadi semakin relevan kita lakukan untuk mereduksi watak pragmatis dan individualis, dalam upaya menjunjung tinggi kepentingan umum di atas kepentingan pribadi dan kelompok serta menyalakan empati untuk mengubur kesenjangan melalui semangat solidaritas dan kesetaraan.

Peneguhan kembali (reinforcement) ajaran Ibrahim A.S. tersebut meniscayakan adanya koreksi moral yang memerlukan totalitas perjuangan. Maka setidaknya ada tiga pilar yang harus kokoh berdiri yaitu kesadaran kolektif, institusionalisasi dan keteladanan.

Pertama, kesadaran atau pemahaman bersama pada doktrin ketauhidan yang secara mutlak mendorong bahwa hanya kepada Tuhan lah ketundukan dan kepatuhan itu dialamatkan. Setelah itu membebaskan diri dari ketergantungan pada kekuasaan, materi dan ego pribadi serta meyakini bahwa kesetaraan dihadapan-Nya akan menuntun kita pada sikap adil dalam jalinan interaksi kepada siapapun.

Kedua, Ibnu Khaldun dalam konsep Al-Siyasah Al-Madaniyah memandang bahwa sistem bernegara harus dijiwai oleh nilai-nilai transendental (ketuhanan). Maka Institusionalisasi nilai ketuhanan itu adalah pelembagaan karakter kinerja yang senantiasa melayani umat dan menjadi kompas moral bagi setiap pengambil kebijakan.

Ketiga, kepemimpinan Ibrahim A.S. menyuguhkan keteladanan berupa integritas yang kuat. Tidak menyelewengkan perintah Tuhan dengan menunda apalagi meninggalkannya, komunikasi secara terbuka dalam penyampaian perintah penyembelihan, tidak arogan dan secara partisipatif demokratis membuka ruang diskusi dengan Ismail A.S.

REFLEKSI DUA MOMENTUM

Energi Zulhijah yang memancar dari spirit ajaran Ibrahim A.S. tersebut semakin memperkuat konstruksi pengamalan Pancasila sebagai philosophische grondslag yang dimaknai sebagai sumber dari segala sumber hukum yang mengatur pranata sosial, menjadi pedoman, arah, tujuan bagi penyelenggaraan pemerintahan, dan lebih mendalam lagi sebagai identitas nasional yang memperkokoh karakter bangsa kita.

Di tengah problematika kontemporer yang mengerucut pada menguatnya pragmatisme, individualisme yang melahirkan polarisasi, intoleransi dengan menurunnya budaya gotong royong, maka bertemunya bulan Zulhijah dan Peringatan Lahirnya Pancasila ini adalah sebuah momentum refleksi yang wajib diketengahkan.

Mari kita jadikan perjumpaan dua peristiwa kali ini sebagai penyegaran dalam penguatan karakter bangsa yang meninggikan integritas dan kepedulian sosial, mengaktualisasikan Pancasila sebagai acuan kolektif etika sosial politik, dan membangun Indonesia yang berkeadaban dalam harmonisasi nilai agama dengan komitmen kebangsaan.

Akhirnya, koherensi Energi Zulhijah dan Peringatan Lahirnya Pancasila kali ini menegaskan bahwa kekuatan bangsa tidak hanya ditopang oleh sistem politik dan hukum, tetapi juga melalui energi moral dan spiritual seluruh tumpah darah Indonesia.

Wallahu a’lam bishshawab